Showing posts with label Pemikiran. Show all posts
Showing posts with label Pemikiran. Show all posts

Friday, February 20, 2015

4 (empat) Tahap Menggapai Tuhan; Khazanah Tasawuf

4 (empat) tahap menggapai Tuhan, judul ini kiranya pas saya ketengahkan untuk menggambarkan usaha yang harus ditempuh setiap orang agar dapat menghayati dan mengamalkan agamanya dengan sempurna. Ibnu ‘Arabi menulis 4 tahap pengamalan dan pemahaman dalam tasawuf: syariah, thariqah, haqiqah, dan ma’rifah. Tiap tingkat dibangun berdasarkan tingkat sebelumnya.

Tuesday, February 17, 2015

Peran Akal dalam Khazanah Al-Qur'an

Akal dalam terminologi al-qur’an bukan hanya daya pikir yang dihasilkan oleh sistem kerja otak dan sel saraf  yang menghasilkan pikiran-pikiran rasional, kreatif, intuitif maupun imajinatif. Alqur’an sering mengaitkan kata akal dengan qolbu (hati) sebagai kemampuan berpikir dan kesadaran moral. Ia adalah akal sehat dan kepekaan hati. Karena itu dikecamnya bagi mereka yang tidak menggunakan hati, sebagai manusia yang tidak berakal (tidak berpikir).

Sunday, February 15, 2015

Khazanah Perilaku Tasawuf

Tasawuf adalah jalan yang canggih, yang di dalam praktiknya melibatkaan pekerjaan, keluarga, dan pengalaman kehidupan sehari-hari. Ajaran Sufi mengajarkan kita untuk menggunakan tugas dan  pengalaman kita sebagai bagian dari perjalanan spiritual kita. Syekh Muzaffar berkata :”sibukan tanganmu dengan melakukan pekerjaan duniawi, dan sibukan hatimu dengan Allah”.

Wednesday, April 20, 2011

Qodha dan Qadar ; Khazanah Akidah Islam

Dasar Perintah Beriman Kepada Qodha dan Qodar Allah

Diriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah SAW didatangi oleh seorang laki-laki yang berpakaian serba putih , rambutnya sangat hitam. Lelaki itu bertanya tentang Islam, Iman dan Ihsan. Tentang keimanan Rasulullah menjawab:
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ اْلاَخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
Hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaekat-malaekat-Nya, kitab-kitab-Nya,rasul-rasulnya, hari akhir dan beriman pula kepada qadar(takdir) yang baik ataupun yang buruk. Lelaki tersebut berkata” Tuan benar”. (H.R. Muslim)